| Anjar : Honorku, Modalku | |
| 0000-00-00 00:00:00 | |
|
Ada senyum di hatiku, selalu yakin dengan awal yang baru.
Walau badai mengganggu,tak kubiarkan semangatku layu
Penggalan lagu ``Unbreakable`` yang dinyanyikan Shanty itu pas banget untuk menggambarkan seorang sosok yang biasa dipanggil ‘Anjar’ ini. Penulis yang juga pendengar setia Rase FM ini sudah mengeluarkan empat novel, satu teenlit, dan satu buku kesaksian rohani ini memang harus lebih dulu melewati jalan berliku, sebelum namanya eksis di dunia tulis menulis. Kemampuan menulisnya sangat dipengaruhi oleh latar belakang keluarganya. Ayahnya (almarhum) adalah seorang guru. Beliau selalu mewajibkan Anjar untuk rajin membaca. Hal ini juga didukung oleh ibunya (almarhum). Anjar kecil dibiasakan rajin membaca. Untuk mendukung agar anak tunggalnya itu jadi rajin membaca, orangtua Anjar membelikannya buku-buku cerita anak-anak. Koleksi Lima Sekawan karya Enid Blyton punya Anjar lengkap lho ! Sayang, seiring perjalanan waktu, buku koleksinya itu banyak yang menghilang. Biasa deh, dipinjem temen dan nggak dikembalikan. Selain Lima Sekawan, Anjar juga punya buku dongeng lumayan banyak. Wanita bernama lengkap Anastasia Ganjar Ayu Setiansih ini memang sangat menggemari dongeng, karena bisa membayangkan yang indah-indah. Sampai sekarang, Anjar tetap menyukai dongeng. Makanya, dia selalu meminta buku dongeng dari berbagai negara, jika kebetulan ada rekan yang berkunjung ke sana. Buku-buku koleksi Anjar ini pernah dia susun menjadi semacam perpustakaan kecil di rumahnya di Lampung. Dari kebiasaan membaca itu, lama kelamaan imajinasinya juga berkembang. Hal itu membuatnya rajin mencoba membuat karangan. Sejak saat itu, Anjar kecil ingin menjadi seorang penulis. Keinginannya ini semakin kuat setelah ia bertemu dengan idolanya di masa remaja. Di tahun’80-an, remaja Indonesia sangat mengidolai tokoh Lupus. Pas Anjar duduk di bangku SMP di SMA Xaverius, Lampung, penulis cerita Lupus, Hilman Hariwijaya, datang ke sana. Anjar pun berkesempatan untuk berjumpa dengan penulis yang kala itu jadi idola remaja seusianya. Saat kedatangan Hilma ke sekolahnya itulah, Anjar pun akhirnya mengenal Lupus dan menggemari tokoh itu. Pengalaman bertemu Hilman itu membuat semangatnya untuk jadi seorang penulis semakin tinggi. Anjar pun makin giat membuat cerpen. Setelah lulus SMA, Anjar melanjutkan kuliah ke Kota Kembang, Bandung. Di waktu jadi mahasiswa inilah, dia semakin gencar menyalurkan hobi menulisnya. Kata-kata ia rangkai, menjadi sebait puisi atau menjadi kisah-kisah sesuai imajinasinya dalam sebuah cerpen. Keuletannya merangkai kata-kata berbuah manis. Salah satu cerpennya yang berjudul Hatiku Seputih Pualam, Jo !dimuat oleh majalah remaja yang sangat populer di tahun 1990-an, yaitu Anita Cemerlang. Keberhasilannya ini semakin membuat Anjar semakin bergairah menghasilkan karya. Setiap untaian hasil imajinasiyang sudah terangkai dalam bentuk cerita-cerita pendek semakin rajin ia kirimkan ke beberapa majalah remaja. Setelah karyanya dimuat di Anita Cemerlang, karya Anjar yang lain satu per satu menyusul dimuat, antara lain di majalah Hai, Gadis dan Aneka Ria. Dari beberapa cerpen yang berhasil dimuat, Anjar bisa mendapatkan uang saku tambahan. Honorku adalah ModalkuUang honor hasil jerih payahnya menulis cerpen digunakan Anjar sebagai modal. Bukan sebagai modal usaha, tapi modal untuk semakin mengembangkan bakatnya menulis. Gimana caranya ? Bersama seorang rekan yang juga mempunyai minat sama terhadap dunia tulis menulis, bernama Intan, Anjar mulai menjelajahi ibukota Jakarta. Dengan modal nekat, ia dan Intan menelepon redaksi majalah yang memuat honornya. Anjar meminta agar honornya bisa diambil secara langsung olehnya. Syukurnya, pihak redaksi sama sekali tidak keberatan dengan permintaannya ini. Dengan uang honor di tangan inilah, Anjar yang ditemani Intan, mulai menawarkan tulisan-tulisannya ke media-media lainnya. Selain cerpen, Anjar pun mulai menawarkan novel pada pihak penerbit. Uang honornya itulah yang dia gunakan sebagai biaya transportasi dan akomodasi selama berkeliling Jakarta. Itulah yang tak putus dilakukan Anjar. Selama bertahun-tahun, ia menawarkan novel door to door, dari satu penerbit ke penerbit lain. Pengalaman ditolak penerbit sudah menjadi hal yang wajar dialami Anjar. Tapi, semua itu tidak membuatnya patah semangat untuk terus menulis. Setiap penolakan dianggap sebagai cambuk untuk membuat tulisannya semakin sempurna, semakin layak untuk dijadikan sebuah novel. Kembali, kesabaran dan penantiannya berbuah manis. Penerbit Grasindo berminat untuk menerbitkan karyanya. Tapi, adanya sebuah penerbit yang mau menerbitkan karyanya itu juga bukan jalan akhir. Masih banyak tahap yang harus dijalani Anjar. Ia kini harus berhadapan dengan editor dari pihak penerbit, yang menginginkan adanya beberapa perubahan dalam karyanya, agar bisa lebih laik jual. Ini tentu membutuhkan kompromi yang tidak mudah. Di satu sisi, Anjar tentu harus mempertahankan idealismenya. Tapi di sisi lain, ia juga harus menyesuaikan diri dengan keinginan penerbit, yang tentunya punya sudut pandang tersendiri mengenai karya-karya yang akan laku di pasaran atau tidak. Tapi, Anjar bisa melakukannya. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai Sekretaris Gereja Mahasiswa (Gema) akhirnya novel pertama Anjar, ”Beraja, Biarkan Ku Mencinta” terbit pada tahun 2003. Novel tentang percintaan romantis seorang karyawan biasa dengan seorang boss, yang diselingi dengan keindahan bait-bait puisi ini segera saja menjadi bahan pembicaraan di kalangan pencinta seni sastra. Salah satu stasiun televisi swasta pun berniat untuk membuat sinetron yang diangkat dari nover perdananya itu. Untuk kepentingan itu, Anjar diundang ke stasiun televisi itu. Di sana, akhirnya dia bertemu dengan penulis yang selama ini menjadi motivatornya, Hilman Hariwijaya. Saat pertemuan itu, Hilman pun tak ragu untuk membagikan talenta menulisnya pada Anjar. Pada kesempatan inilah, Hilman memberikan tantangan untuk Anjar : menulis sebuah teenlit ! Sebuah perjuangan berat yang mencapai keberhasilan. Kemunculan ``Beraja, Biarkan Ku Mencinta`` ini sontak semakin mengasah semangatnya untuk terus berkarya. Beraja tidak sendiri. Karya-karya Anjar yang lain pun menyusul, yaitu Kidung, Tiga dan Lelana, yang semuanya diterbitkan Grasindo. Selain novel, Anjar pun mulai melirik teenlit. Hal ini akhirnya ia lakukan untuk menjawab tantangan sang mentor, Hilman. Teenlitnya yang pertama, Karena Ku Sayang, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2007 lalu. Anjar tidak lupa untuk selalu bersyukur pada Yang Kuasa, atas talenta yang selama ini telah dipercayakan padanya untuk dikembangkan. Rasa syukurnya itu juga ia tuangkan dalam sebuah buku. Buku berjudul Apa Kabar Kang Je ? yang diterbitkan Obor itu berisi perasaan Anjar yang selalu merasa dekat dengan Sang Agung. Jalan terjal memang telah ditempuh oleh seorang Anjar untuk mencapai cita-cita masa kecilnya untuk menjadi seorang penulis. Jalan untuk mencapai cita-cita itu ia tempuh dengan tidak putus asa dalam berkarya. Penolakan tidak membuat dirinya patah arang dalam berusaha. Kini, saat keberhasilan telah ada di tangannya, semangatnya untuk menghasilkan karya juga tidak pernah pudar. Justru semakin mengakar. Anjar memang wanita yang nggak mudah patah oleh segala macam badai yang menerjang. Jika badai itu datang, maka dia akan menunggu untuk tetap melaju. ( written by : Maria Susanto ) |
|
| [ kembali ... ] |